Mata Kuliah : Filsafat Pendidikan Sekolah Dasar
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, MA
Nama Mahasiswa : Umar Yampap
NIM : 21706261008
FILSAFAT BAGIAN 1
Maka sebenar benar manusia yaitu sifat mendahului sifat, sfat mengikuti sifat, dan sifat mempunyai sifat. Seperti sifat di sini yaitu sifat tetap. Saya tidak bisa mengubah takdir bahwa yang terpilih tadi yaitu benda berwarna putih. Itu sudah terjadi bahwa bagaimana pun juga sudah tercatat. Sudah terjadi itulah suratan takdir. Manusia mana bisa mengubah takdir? Bahwa benda terpilih tadi adalah berwarna putih. Malaikat pun tidak bisa mengubah. Itu kuasa Tuhan. Maka siapapun tidak bisa mengubah takdir ketika sudah kun fayakun. Ketika salah satu hilang dari fatal atau vital tadi, maka tidak ada kehidupan. Iilustrasi ini sebenarnya kita sudah berfilsafat. Misalkan kita menulis tetap jika ditambah isme menjadi tetap isme. Ada juga idealisme dan realisme. Contoh kita ke toko sepatu kita bicara ukuran, harganya. Kalau ngomong yang lain tidak nyambung. Itu kecerdasan dalam filsafat karena ruang dan waktu. Sedangkan orang bodoh tidak mengerti ruang dan waktu.
Kemudian di atas ideal ada absolutisme dan spiritualisme, kuasa Tuhan atau kausa prima. Kausa prima yaitu sebab dari semua sebab. Di bawah realisme semakin ke bawah kita bertemu dengan materialisme, bendaisme. Kalau diawali dari defisini, ketetapan awal atau asumsi, di bawah yaitu contoh. Kemduian diteruskan dari yang tetap, fatal, yang terpilih, jalan yaitu logika. Yang di bawah, berubha, vital, memilih adalah hukum alam (Sunnatullah).
Logika itu apa? Logika yaitu koheren, sedangkan di bawah adalah korespondensi. Apa yang yang berkorespondensi? Realita, fakta, dan persepsi. Saya mencontohkan, wanita, perempuan. Memakai logika dan keherensi itu sudah paham. Kemudian setelah logika, koherensi adalah analitik. Kemudian di bawah adalah sintetik. Maka wanita, perempuan, melahirkan itu satu rumpun. Tidak ada orang yang bertanya apakah bapak-bapak pernah melahirkan? Filsafat yaitu seperti itu, bisa dipahami bahwa melalui kalimat yang terukur. Kebanyakan orang tidak menguasai masalah karena tidak menguasai dunianya, termasuk bahasanya, bahasa itu dunia. Setelah konsisten adalah aksioma dan teori. Aksioma itu ketentuan umum yang bisa dipahami. Kemudian di bawahnya adalah bayangan. Di atas langitnya, di bawah buminya. Kalau di atas dewanya, di bawah daksanya. Kemudian di atasnya adalah aturan atau hokum dan hukum yang penting yaitu aturan Tuhan, dan di atasnya itu adalah formal dan di bawah material. Semua deratan ini adalah alat untuk berselancar dalam berfilsafat. Semua yang di atas adalah apriori, dan di bawah adalah aposteriori. Apriori itu paham walaupun belum melihat. Seperti contoh ketika anak berkomunikasi dengan ayahnya. Bapak nanti bisa menjumpai calon saya. Namanya ini, umurnya segini, pekerjaannya ini, orang tuanya rumahnya mana. Bapak mau ke sana menengok? Oh tidak perlu! Jadi, walaupun belum berjumpa bapak sudah paham. Itu namanya apriori. Sebaliknya, ini datanya, ini rumusnya, kemudian bapak berkata kamu ini bicara seperti burung. Saya tidak percaya sebelum saya melihatnya. Berarti bapakmu itu alirannya aposteriori.
Kalau binatang kebanyakan aposteriori. Contoh kucing kalau ada tikus lewat, itu ekornya gerak-gerak. Anak-anak juga seperti itu. Kalau orang dewasa kebanyak sudah apriori. Aposteriori itu levelnya anak-anak, binatang, dan benda, dan didasarkan pada pengalaman. Jadi, pengetahuan yang jenis ini didasarkan pengalaman, fenomena satu kepada peristiwa berikutnya. Karena pengalaman, muncul empirisme. Sedangkan yang apriori adalah rasionalisme.
Dalam konsep atau teori, yang bawah adalah Heraclitos, yang berpendapat segala sesuatu bisa berubah. Sedangkan yang atas alirannya Parmenides yang berpendapat segela sesuatu itu tetap. Filsafat yaitu seperti itu, bisa dipahami melalui kalimat yang terukur. Kebanyakan orang tidak menguasai masalah karena tidak menguasai dunianya, termasuk bahasanya, bahasa itu dunia. Setelah konsisten yaitu aksioma dan teori. Aksioma itu ketentuan-ketentuan umum yang bisa dipahami. Kemudian di bawahnya adalah bayangan. Di atas langitnya, di bawah buminya. Kalau di atas dewanya, di bawah daksanya. Kemudian di atasnya adalah aturan atau hukum, dan hukum yang penting adalah aturan Tuhan, dan di atasnya itu adalah formal dan di bawah material. Semua deratan di ini adalah alat untuk berselancar dalam berfilsafat.
Kuasa Tuhan itu esa, maka lahirlah monisme. Jadi, yang percaya Tuhan itu satu atau esa, filsafatnya yaitu monoisme. Sedangkan yang di bawah adalah jamak itu pluralisme. Yang percaya dua, yaitu dualisme. Jadi, Pancasila itu mono dualisme. Dalam konteks ini mucul tokoh bernama Immanuel Kant. Sebelum Immanuel Kant, tokoh rasionalisme itu René Descartes, selain rasionalisme, ia juga tokoh skeptisisme. Sebenarnya, filsafat itu mengalir, karena skeptisisme itu sudah ada sejak zaman Yunani Kuno abad ke-8 sampai abad ke-6 SM sampai berakhirnya Abad Kuno. Lalu ditentang oleh empirisisme David Hume. Zaman dulu seru itu pertentangannya, kayak Pilpres kemarin. Oh neraka-neraka, oh surga-surga, seru sekali. Namun sekarang bubar, mudah-mudahan tidak ada lagi kampret dan cebong.
Descartes itu skeptisnya luar biasa. Pada saat musim dingin di sana, ia tidak bisa membedakan benda-benda. Sampaiia meragukan keberadaan Tuhan. Akhirnya ia menemukan satu kunci yang tidak bisa dibantah. Maka ketemulah, aku tidak bermimpi karena aku tidak berpikir. Cogito ergo sum adalah sebuah ungkapan yang diutarakan oleh Descartes, sang filsuf ternama dari Prancis. Artinya saya berpikir maka saya ada. Jadi, sebenarnya ilmu, menurut Descartes harus berdasarkan rasio, pikiran. Kalau tidak ada pikiran tidak ada ilmu. Namun ini ditantang oleh David Hume. Sebenarnya kamu berpikir, kalau belum mengalami belum benar.
Maka muncul aliran tengah, yaitu Immanuel Kant, yang menyatakan perwakilan langit dan bumi. Langit itu apriori, dan bumi itu sintetik yang ini ditulis di bukunya Kant. Setelah ini mucul zaman modern dalam filsat itu munculnya setelah pertarungan antara Descartes dengan Hume. Setelah itu kemudian berkembang, lalu muncullah tokoh bernama Auguste Comte yang meninggal pada 1857. Mengapa saya ingat? Karena 100 tahun kemudian saya lahir. Namun saya mengajak istighfar bagi yang Islam dengan kyusu sebanyak lima kali. Mengapa demikian? Karena menurut dia, agama tidak bisa membangun dunia karena agama tidak logis. Hal itu ada di dalam buku Positivisme. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Ia menempatkan teori membangun dunia dengan menempatkan spiritualisme itu berada di paling bawah. Agama ditaruh di paling bawah, kemudian metafisik, di atasnya metode positif.
Saya jadi teringat dongengnya Resi Gotama yang seolah mengutuk Comte. Jika Comte hanya berteori, namun era saintifik dan teknologi saat ini justru kita melebihi dari apa yang dilakukan Comte. Karena teknologi itu positifnya membawa kesejahteraan, namun negatifnya adalah melahirkan kemunafikan. Contoh guru besar luar negeri yang pernah obervasi ke FMIPA UNY dan bertemu saya itu. Maka dalam konteks ini, ada archaic, terus tribal, atasnya tradisional, kemudian feodal, lalu modern, lalu postmodern atau power now/kontemporer. Saat ini keadaan demikian, dan ini dibackup kapitalisme, materealisme, pragmatisme, utilitarian, dan liberalisme. Sementara itu, di Indonesia itu ada Pancasila, ada sila 1 sampai sila ke 5. Semua itu digempur sejak dulu ada PKI, kemudian digempur melalui internet, digempur pula dari kanan dengan sistem khilafah mau mengganti NKRI, Pancasila, kondisinya seperti itu.
Berikut ini adalah Video Youtube Filsafat Bagian 1 Oleh Prof. Dr. Marsigit, MA. Selamat menyimak :)






0 komentar:
Posting Komentar